SUKACITA MASYARAKAT DESA LONG KEMUAT SAAT MEMANEN PADI LADANG GUNUNG

1772663142576.jpg

Padi Gunung Dari Ujung Pedalaman Kalimantan Utara khususnya di Desa Long Kemuat Kecamatan Bahau Hulu (Beras Organik).

Proses Panen Padi Gunung yang dilakukan oleh masyarakat Desa Long Kemuat merupakan salah satu desa di Kecamatan Bahau Hulu Kab Malinau Provinsi Kalimantan Utara tepatnya di ujung Utara Kalimantan dan berbatasan dengan negara tetangga Malaysia, masyarakat desa yang tinggal di hulu Sungai merupakan Suku Dayak Kenyah campuran (lepu' ke, lepu' ma'ut, dan yg lainnya yang dimana mayoritas tinggal di Hulu Sungai ini. Masyarakat pada umumnya bekerja berladang yang dimana hasil utama dari bertani itu adalah Beras yang alokasinya untuk tidak semata-mata hanya sebagai komsumsi saja dan ada juga sebagian dari masyarakat yang menjual hasil ladang mereka .

Musim bertani padi gunung biasanya di bagi menjadi beberapa bulan, untuk bulan pembukaan lahannya biasanya dilakukan pada bulan Maret akhir tapi bagi masyarakat yang mau membuka lahan baru (hutan rimba) biasnaya sudah mulai menebas  akhir bulan maret sampai April dan bagi masyarakat yang membuka kembali lagi lahan bekas ladang tahun lalu (pembukaan lahan di sini yang dimaksud adalah membuka kembali lahan bekas pertanian padi gunung yang sudah bertahun-tahun mereka tinggalkan yang biasa mereka sebut Lahan Jakau (Lahan bekas pertanian padi gunung), bulan juli mereka menunggu lahan benar-benar kering karena akan memasuki pembakaran ladang gunung setelah pembakaran selesai di lakukan bulan agustus  masyarakat mulai menanam padi atau Menugal dengan cara membuat lubang di tanah menggunakan tongkat dari kayu dan memasukkan beberapa bulir bibit padi yang biji kemudian menutupnya kembali. 

untuk bulan oktober sampai februari masa pertumbuhan padi gunung yang dimana sesekali para petani membersihkan rumput-rumput yang ada di lahan pertanian mereka, untuk bulan Februari – Maret masyarakat desa melakukan panen padi yang dimana mereka menggunakan alat memanen padi seperti ani-ani atau emat dalam bahasa kenyah, bakul atau ingen (bahasa kenyah) sebagai perlengkapan panennya, masa panen padi biasanya ibu-ibu pergi  senguyun majau atau yang biasa di sebut timbal balik tenaga kerja dengan cara gotong royong ada yang tukang angkut padi.

Semua pengolahan padi gunung menggunakan cara tradisional dan tidak menggunakan pupuk dan pestisida ataupun bahan kimia lainnya, cara bertani tersebut merupakan hasil dari ajaran nenek moyang masyarakat tentang bagaimana caranya menjaga alam dan bersahabat dengan alam. Masyarakat juga paham gimana caranya menjaga kesuburan tanah di suatu tempat, bertani padi gunung secara berpindah-pindah merupakan salah satu cara menjaga kesuburan tanah.

Setelah proses rangkaian panen padi gunung semuanya selesai masyarakat akan merayakan pesta panen hasil dari jerih payah mereka di akhir bulan maret masyarakat akan berkumpul di salah satu Gedung Pertemuan yang ada di desa guna melaporkan hasil panen untuk tahun ini dan di hadiri seluruh masyarakat desa, dan yang uniknya setiap ibu-ibu membawa berbagai macam kue dari beras ada sebagiannya membawa lemang untuk di santap bersama setelah acara pembacaan panen dan pembacaan doa syukur yang dilakukan oleh Pendeta/Gembala atas panen padi pada tahun ini.

Bagikan post ini: